Ride!
Big boy's toys
Senin, 27 April 2026
Old Money
Beli Rumah atau Tidak?
Baru baca-baca komen warga sosmed sebelah, tentang "beli rumah atau enggak"?
Netizen yang komen sepenangkapan saya banyak dari kelas menengah ke bawah. Banyak yang keukeh "harus beli rumah, KPR lama ga papa, daripada seumur hidup ngontrak". Sangat masuk akal, karena bagi mereka, sedikit saja kesalahan keputusan, bisa sangat mempengaruhi seluruh kehidupan. Maen aman saja, yang penting selamat sampai akhir. Puncak kemapanan hidup menurut mereka: punya rumah lunas, bisa sekolahin anak, makan sehari-hari tercukupi, sesekali jalan-jalan. Udah.
Beli rumah - lunas (ga papa ga luas, yang penting lunas - walaupun ngos-ngosan bulanannya) adalah step yang harus dilewati agar lebih merasa aman, dan lebih siap melewati step berikutnya.
Sedangkan PoV mereka yang beneran punya uang, keputusan beli rumah atau tidak, hanya sebuah pilihan. Mau beli ya tinggal beli, mau di apart, sewa rumah biar bisa pindah-pindah ya ga ada masalah. Not a big deal.
Ekonomi yang stabil melahirkan keputusan yang matang dan tidak terburu-buru. Latar belakang keluarga yang bagus, pengetahun (finansial, dll), mungkin pengalaman hidup berpindah-pindah di luar negeri sangat mempengaruhi pertimbangan mereka.
Tidak ada kebenaran mutlak.
Kamis, 06 Februari 2025
Inflasi (di Dunia Otomotif)
Minggu, 04 April 2021
Keinginan Adalah Sumber Penderitaan
Guru Agung Buddha menyampaikan: hidup ini adalah penderitaan.
Penderitaan bersumber dari diri sendiri. Penderitaan bukan dari luar. Bukan
hukuman, tetapi konsekuensi atas suatu aksi. Dan kita sendirilah yang harus mengatasi
itu. Tidak bisa mengandalkan dari luar.
Penderitaan disebabkan nafsu keinginan yang berkembang menjadi kemelekatan. Keinginan yang
berkobar-kobar, yang selalu mendapat pemenuhan. Yang kemudian menjadi
kebiasaan. Dan inilah sumber penderitaan.
Keinginan, harapan, tuntutan yang terpenuhi bukankah
kebahagiaan?
IYA!
Tetapi sepintas. Karena keinginan yang terpenuhi itu akan menuntut
kembali dengan keinginan yang baru. Dan kita hanya merasakan bahagia sebentar. “Kebahagiaan” yang
sesungguhnya adalah bukan karena nafsu yang terpenuhi. Justru karena nafsu yang
padam. Itulah “kebahagiaan” yang sesungguhnya!
Walaupun belum bisa
memadamkan nafsu keinginan, namun dengan hanya mengecilkan atau mengurangi nafsu keinginan, akan
membawa pada ketentraman.
Walaupun kobaran hawa nafsu belum padam, tetapi hanya mengecil, itupun akan memberikan kebahagiaan.
Untuk terpuaskannya nafsu keinginan.
Sekalipun terjadi hujan emas. Mendapatkan hal seperti itupun, hawa nafsu tidak akan padam.
Penderitaan juga dibuat sendiri, karena adanya kobaran api kebencian.
Jika tidak selektif dengan keinginan, maka itu akan menjadi kobaran nafsu. Dan itulah penyebab
penderitaan.
Keinginan adalah penyebab penderitaan.
Kamis, 13 Agustus 2020
Hari Ini Makan Apa Ya?
*Tulisan beberapa waktu lalu. Sempet ragu mau posting enggak, akhirnya posting aja...
Belakangan ini merasa duniawi banget. Juga merasa pemikiran
mulai sedikit ga bener *emotketawasambilnangis
Ga tau kenapa. Mungkin karena kebanyakan nonton Youtube
channel yang nyerempet-nyerempet hobby sih. Mau yang kayak di video Youtube itu
pokoknya!
Sedikit banyak jadi kebawa. Termasuk kebawa mimpi LOL.
Cerita ke temen, katanya sih normal. It’s okay, bro… Mungkin
cuma buat ngeyem-yemi, mungkin banget hahaha.
Ok. Dapet pelajaran.
Ketika menginginkan sesuatu (utamanya keinginan duniawi),
akan ada 2 pilihan. Pilihan pertama: hidup jadi ga tenang, badan disini tapi
pikiran ga tau dimana. Pasti pernah merasakan lah. Udah tau ga berguna, tapi
tetep aja autopilot kepikiran.
Dan pilihan yang kedua: termotivasi!
Ini sisi positifnya. Mau ga mau, sadar ga sadar, pasti jadi
termotivasi. Gagal – coba lagi – gagal – coba lagi – begitu seterusnya. Serasa
pakai turbo! #kamisukaturbo
Ya, karena ada tujuan. Sebegitu pentingnya ternyata yang
namanya TUJUAN!
Yang belajar jadi lebih semangat belajarnya.
Yang kerja, fighting spiritnya tambah lagi dong. Walking from
failure to failure with no loss of enthusiasm!
Manusiawi kok menginginkan lebih dan lebih lagi. Sangat
manusiawi.
Tapi tau ga, sumber kerisauan hati adalah keinginan manusia
untuk selalu memiliki. Adakalanya, beberapa hal harus direlakan, apalagi yang
diluar kendali manusia.
Semua juga tau, pada akhirnya harus bersyukur. Ya memang
harus seperti itu.
Terlalu banyak hal yang bisa disyukuri. Sekecil apapun berkat
dalam hidup. Sesimpel apapun.
I woke up. I have clothes to wear. I have running water. I
have food to eat. I am thankful.
Bukankah hidup akan selalu dicukupkan?
Bangun setiap pagi dengan kondisi sehat, cukup makanan,
dikelilingi orang-orang yang saling support, dan keluarga yang selalu
menyayangi. Kurang apalagi? Itu saja sudah lebih dari cukup.
Kita tak pernah tau apa yang kita miliki, hingga nanti
kehilangan.
==============================
Terima kasih untuk rejeki pada hari ini.







